Catatan Berfestival Film Saat Pandemi: Locarno Film Festival 2020

Bulan Juni, malam hari saat hujan, sebuah email dari Locarno Film Festival yang masuk di inbox membuat saya kembali beranjak dari tempat tidur. Mereka mengundang dan meminta izin untuk memutar film pendek saya, On Friday Noon. Sebuah undangan yang tentu saja tak bisa saya tolak. Locarno Film Festival adalah salah satu festival film besar di dunia yang memiliki sejarah panjang dan tercatat sebagai festival film tertua di Eropa, yang menjadi tujuan banyak filmmaker untuk memutar filmnya di sana. Dengan nama besarnya, Locarno Film Festival tahun ini kemudian berusaha untuk tetap menghidupkan festival, di tengah pandemi yang jelas membatasi ruang gerak. Pilihan paling masuk akal kemudian adalah menggelar festival secara online; sebuah skema yang hampir pasti tak mungkin dilakukan dan terpikirkan sedikitpun oleh festival film sebelumnya.

poster Locarno_square_logo copy

official poster On Friday Noon untuk Locarno Film Festival 2020

Kenapa tak mungkin?
Pertama, Sebuah festival, tentu saja dirancang untuk mendatangkan banyak orang; di mana di sebuah gelaran festival film; selain menonton film tentu saja, hal paling penting adalah bertemunya orang-orang yang membawa berbagai macam kepentingan untuk saling bertemu dan menjalin relasi kerja sama. Sebuah festival film menjadi platform yang sangat tepat untuk mempertemukan orang-orang itu. Festival Film Locarno membingkainya dalam program khusus bernama Open Doors; sebuah inisiasi untuk mempertemukan stakeholders perfilman supaya kegiatan perfilman bisa terus diupayakan.

Kedua, festival film besar seperti Locarno, Cannes, Berlin, Busan, dan lain-lain memiliki syarat ketat dalam menyeleksi film-film yang akan diputar di festival mereka. Salah satu syarat yang paling umum adalah film belum pernah tayang secara online. Oleh sebab itu, jangan heran jika filmmaker-filmmaker selalu menahan film mereka untuk tidak diupload di kanal online; setidaknya sampai daur usia film di sirkuit festival film yang biasanya berumur 1-2 tahun.

Namun, negara api menyerang.
Pandemi datang, dan kita hidup dalam keterbatasan. Selama pandemi, kita tak bisa berkumpul dan meramu secara komunal. Hal ini jelas merepotkan gelaran festival film. Beberapa festival film memilih untuk menunda bahkan membatalkan gelarannya. Beruntung, kita masih terkoneksi melalui internet. Hal ini kemudian yang dimanfaatkan dengan baik oleh Locarno Film Festival. Di tahun ini, mereka bertransformasi menjadi sebuah festival film online; di mana mereka tetap memutar film yang terseleksi secara online (atas persetujuan filmmaker), dan juga tetap mempertemukan orang-orang secara virtual. Dari tanggal 5-15 Agustus, semua orang di dunia ini bisa mengakses film-film yang terseleksi secara online dan menontonnya secara gratis. Sebuah pengalaman menonton di festival film yang tak pernah bisa dirasakan sebelumnya. Memang ada sedikit perbedaan mengenai seleksi film yang mereka lakukan; seperti mereka tidak menyeleksi film panjang di tahun ini; namun tetap menggelar kompetisi untuk film pendek dengan proses seleksi yang tetap ketat seperti saat-saat sebelumnya. Mereka juga kemudian menyeleksi film-film lain yang telah diputar di sirkuit festival dan menurut mereka menarik untuk dihadirkan kembali, seperti film saya yang notabene adalah film lama. Hal ini jelas menjadi daya tarik tersendiri; karena kini penonton di Ngaglik pun bisa menonton semua film yang lolos seleksi di Festival Film Locarno; hal yang dulu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mengunjungi festival itu saja. Tentu saja terobosan ini masih sangat awal; namun dalam sebuah diskusi yang saya lakukan bersama stakeholders lain di Locarno (tentu saja via Zoom), hampir semua mengamini jika akses film yang dibuka secara online ini sangat menyenangkan, karena penonton bisa mengakses film kapan saja sesuai waktu masing-masing, selama festival berlangsung. Namun tentu saja, hal baru ini juga memunculkan kekhawatiran.

Screen Shot 2020-08-04 at 19.16.51

diskusi secara virtual di Locarno Film Festival 2020

Kenapa khawatir?
Festival film selalu ingin “membawa” film yang baru, yang belum pernah diakses oleh orang lain sebelumnya. Itu sebabnya, ada aturan film belum pernah tayang secara online saat mereka menyeleksi film. Oleh sebab itu, platform online yang dijalankan oleh Locarno Film Festival ini memunculkan kekhawatiran, terlebih dari pihak filmmaker. Karena hal ini menjadi rancu; jangan-jangan setelah tayang online di Locarno, film mereka tak bisa tayang lagi di festival film lain. Namun Locarno Film Festival sudah memikirkan hal ini. Hal pertama, mereka meminta persetujuan pembuat film, apakah mereka mau untuk diputar secara online atau tidak ketika film mereka sudah terseleksi. Kedua, mereka membatasi penayangan selama kurun waktu festival berlangsung, dan juga melalui kanal resmi mereka. Ketiga, terobosan yang mereka lakukan ini telah dikomunikasikan kepada sesama pelaku penggelar festival film di dunia; sehingga hampir bisa dipastikan ini adalah kondisi khusus yang menjadi pemakluman semua orang; demi tetap berjalannya festival dan bertemunya film dengan penonton.

IMG_8690

On Friday Noon di kanal online Locarno Film Festival 2020

Setelah Pandemi Berakhir
Kita tidak tahu kapan pandemi ini berakhir. Namun jelas, kita selalu berharap kita bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala; termasuk aktifitas-aktifitas festival film. Namun saya pikir, terobosan yang dilakukan oleh Locarno Film Feetival dalam hal terbukanya festival film untuk memutar film yang terseleksi secara online, adalah sebuah hal baik yang menurut saya harus dilanjutkan; dan diikuti oleh festival-festival film lainnya; tentu dengan aturan-aturan baru yang sama-sama disepakati. Karena kembali lagi, film diciptakan untuk ditonton (oleh penonton), bukan untuk dapat cap padi-padian di poster; dan dalam perspektif saya sebagai pembuat film, sangat menyenangkan jika film saya bisa bertemu dengan banyak penonton dengan cara apapun, secara nyaman di festival, maupun juga secara online yang tentu saja melalui platform legal, baik itu gratis maupun berbayar.

Mungkin, inilah salah satu berkah pandemi. Sinema, kemudian memang harus adaptif, supaya film bisa tetap bertemu dengan penontonnya, apapun kondisinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com
%d bloggers like this: