Bapak Pengemudi Bajaj Berwarna Oranye

Lima hari ini, saya dan Iqbal mengikuti sebuah program developing naskah untuk film panjang dari British Council di Galeri Nasional Indonesia. Selama lima hari itu kami tinggal di Whiz Hotel Cikini. Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak dari hotel ke venue, tapi karena Iqbal malas jalan dan Jakarta panas sekali satu dan lain hal, kami memutuskan untuk naik angkutan umum. Awalnya, kami berencana naik ojek. Tetapi ternyata lalu lalang bajaj berhasil mengais romansa-romansa kami tentang transportasi legendaris di Jakarta. Alhasil, selama lima hari itu kami naik bajaj. Kemarin, Iqbal bergumam keheranan, karena bajaj-bajaj yang kami temui berwarna biru, kami sempat menyangka jika bajaj oranye sudah mati. Tetapi, begitu senangnya kami pagi tadi, ketika kami menemukan satu-satunya bajaj berwarna oranye.

Saya lupa menanyakan nama pengemudi bajaj tersebut, tapi saya sempat ngobrol sebentar dengannya. Dia adalah orang asli Cirebon, dan merantau di Jakarta selama empat puluh tahun. Dia bercerita pernah menjadi supir di sebuah perusahaan, mobil yang dibawanya adalah mobil-mobil mewah semacam BMW atau Mercy. Lalu saya bertanya, kenapa dia memilih untuk membawa bajaj. Dalam bayangan saya, menjadi supir di sebuah perusahaan dengan membawa mobil mewah jelas lebih nyaman dibanding membawa bajaj di belantara Jakarta yang panas. Dia dengan mantap menjawab jika membawa bajaj lebih nyaman, karena dia bisa mengatur waktunya sendiri, dan tidak pernah dapat omelan bos.
“bisa balik kapan aja kita mau mas.” begitu kata dia.

 

***

Sesi developing naskah yang kami ikuti penuh dengan materi-materi yang cukup menguras energi. Maka waktu break selalu saya manfaatkan untuk benar-benar istirahat sambil minum kopi. Siang itu, saya sengaja menghindari interaksi dengan beberapa teman-teman, karena saya merasa kepala saya penuh sekali. Saya hanya memerhatikan mereka, dengan secangkir kopi yang menemani. Mereka masih membicarakan film. Ada yang ngobrol dengan partner masing-masing, ada yang ngobrol dengan tim lain, dan membicarakan hal-hal lebih lanjut tentang materi yang baru saja kami dapatkan. Saya melihat teman-teman begitu passionate membicarakan project-project mereka, bagaimana mereka menemukan ide, bagaimana mereka membangun ide itu, bagaimana rencana mereka mewujudkannya menjadi sebuah film, bagaimana mereka kemudian memasarkan film itu. Kejadian yang saya lihat itu kembali mengingatkan saya pada obrolan di pagi hari bersama bapak pengemudi bajaj berwarna oranye. Bapak itu memilih untuk menjadi seseorang yang “bebas” dengan bekerja sebagai seorang pengemudi bajaj. Dia mengatur dirinya sendiri, dia adalah bos bagi diri dia sendiri. Meski menyetir BMW atau Mercy pasti lebih nyaman, namun ternyata kenyamanan yang sebenarnya adalah hadir dari perasaan bebas melakukan apa yang disukai. Persis seperti apa yang saya jalani sekarang bersama Iqbal. Saya dan Iqbal sudah lama berpartner bersama. Kami benar-benar bebas mengatur diri kami sendiri, menentukan jalan sendiri, menjadi bos bagi diri kami sendiri. Hal itu juga sama seperti teman-teman lain yang saya perhatikan siang itu, mereka juga adalah manusia-manusia yang bebas melakukan apa yang menurut mereka nyaman, tanpa ada tekanan dari bos, atau dari siapapun. Dan meskipun project-project yang kami bicarakan masih dalam tahap development dan belum tau apakah ada “uang”nya, dalam artian dana untuk mewujudkannya, ataupun keuntungan yang didapatkan, toh itu ternyata bukan hal yang membuat kami kemudian kehilangan semangat untuk menggali gagasan-gagasan lebih dalam demi mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi. Karena ternyata kami senang melakukannya, dan hal yang kami lakukan itu benar-benar tidak ada tekanan dari siapapun, kami bergerak karena kami memang ingin bergerak.

Hari ini, pertemuan kami dengan bapak pengemudi bajaj berwarna oranye menjadi pengingat sekaligus penguat bagi saya dan Iqbal, bahwa kami memang lebih suka bekerja dengan melakukan hal yang kami sukai. Meskipun terkadang terasa berat, seperti bapak pengemudi bajaj berwarna oranye yang harus berdamai dengan panas dan polisi lalu lintas, tetapi memiliki kebebasan untuk mengatur diri sendiri adalah sebuah kenyamanan tersendiri bagi kami. Hal itu adalah barang “mahal” yang berhasil kami beli. Dan saya yakin semua teman-teman yang beberapa baru saya kenal di program developing naskah ini juga merasakan hal yang sama dengan kami. Bahwa bebas melakukan pekerjaan seperti yang diinginkan adalah sesuatu yang tak tergantikan. Buktinya ada di tuas rem yang mulai menipis di bajaj berwarna oranye yang kami naiki pagi tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *