jebakan itu bernama usia

“yog, piye nek awakdewe pindah kantor. golek sing luwih gedhe.” (yog, bagaimana jika kita pindah kantor, cari yang lebih besar) *** pada suatu siang, bob -teman saya yang merintis bisnis jual beli barang-barang dari jepang dengan brand Titip Jepang- membuka sebuah obrolan, ajakan tepatnya. saat itu memang kami mengontrak satu rumah bersama untuk usaha masing-masing. […]

Read More

harga segelas jeruk panas

“kanca-kancamu yo wes do mlebu mas?” (temen-temenmu juga udah pada masuk kerja mas?) “yo wes ket suwe. koe wae sing kesuwen ra bukak-bukak.” (ya udah lama, kamu aja yang lama nggak buka) yanto, penjual angkringan di dekat kantor, menyapa saya dengan pertanyaan itu. malam ini, yanto baru saja kembali buka, terhitung sejak seminggu sebelum lebaran […]

Read More

dua puluh tujuh: sebuah pengingat

dua puluh tujuh. “Pokoknya, pas lo umur 27, lo akan ngambil sebuah keputusan yang penting yang akan ngubah hidup lo.” kata Yusuf di sebuah percakapannya dengan Ambar di film 3 Hari Tuk Selamanya. saat menonton film itu untuk pertama kalinya, usia dua puluh tujuh masih sangat jauh dari saya. saat itu, hari-hari ulang tahun adalah […]

Read More

Bapak Pengemudi Bajaj Berwarna Oranye

Lima hari ini, saya dan Iqbal mengikuti sebuah program developing naskah untuk film panjang dari British Council di Galeri Nasional Indonesia. Selama lima hari itu kami tinggal di Whiz Hotel Cikini. Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak dari hotel ke venue, tapi karena Iqbal malas jalan dan Jakarta panas sekali satu dan lain hal, kami memutuskan […]

Read More

indomie dan indihome

Di sosial media sedang ramai perkara seorang pelanggan jaringan internet indihome yang mengeluarkan uneg-unegnya perkara servis indihome yang dirasa kurang memuaskan. Ia membandingkan servis jaringan indihome dengan jaringan internet di amerika sana. Bagi sesama pelanggan internet dengan kebutuhan koneksi yang prima -sesuai dengan yang ditawarkan indihome- saya sedikit banyak ikut menganggukkan kepala dengan suara pelanggan […]

Read More

Ibu dan Ińárritu

Alejandro González Iñárritu dalam sebuah dokumenter di balik pembuatan film terbarunya, “The Revenant” bercerita tentang banyak visi-nya dalam membuat film itu. Ada satu statement-nya yang cukup terngiang di kepala saya: “I wonder, one day, we eat our last fish, we cut our last tree, and that day we finally realize that money can’t get everything.” […]

Read More

angin utara

  langit sedikit kelabu. tapi ia tak menutupi keindahan biru, toska dan hijau di perairan anambas. lima jam menerjang ombak angin utara, demi sebuah perbincangan ringan di sebuah pulau bernama batu belah. perjalanan yang bagi kebanyakan penduduk anambas adalah nekat, namun bagi saya, itu adalah tekat. tekat untuk menjalani apa yang sudah direncanakan. percayalah, hari […]

Read More

suatu sore di desa telaga

terlalu mudah untuk jatuh cinta dan jatuh cinta lagi pada bumi indonesia. jatuh cinta pada kesederhanaan di balik kemewahan alamnya, jatuh cinta pada keberagamannya, jatuh cinta pada setiap hembusan angin di tepi pantai-pantainya. jatuh cinta pada keakraban yang tumbuh secara alami. jatuh cinta pada biru, toska, hijau, dan canda gurau.   17 des 15 desa […]

Read More

Jurnal Menjelang Siang #3

dua hari yang lalu, iqbal, produser saya di project film pendek Menjelang Siang, melayangkan surat perihal permohonan ijin bantuan untuk memakai mobil satpol pp wonosari beserta personilnya. namun, sepertinya ada sesuatu di naskah kami yang membuat kepala satpol pp wonosari merasa keberatan. akhirnya, kemarin kami memutuskan untuk berkunjung dan bertemu langsung, supaya bisa menjelaskan kebutuhan […]

Read More

Jurnal Menjelang Siang #2

hari ini kami selesai melakukan recce hari kedua dengan rute: moyudan di sleman, dan parangkusumo, bantul. dua lokasi yang secara jarak sangat jauh, memang. saya sempat khawatir jika kami kehabisan waktu, apalagi kami berangkat sedikit terlambat dari jadwal yang sudah ditetapkan. tapi syukurlah, kami bisa menyelesaikan recce hari ini dengan lancar, walau ada satu kejadian […]

Read More