dua puluh tujuh: sebuah pengingat

dua puluh tujuh.
“Pokoknya, pas lo umur 27, lo akan ngambil sebuah keputusan yang penting yang akan ngubah hidup lo.”
kata Yusuf di sebuah percakapannya dengan Ambar di film 3 Hari Tuk Selamanya.

saat menonton film itu untuk pertama kalinya, usia dua puluh tujuh masih sangat jauh dari saya. saat itu, hari-hari ulang tahun adalah persiapan-persiapan untuk merayakannya, menanti ucapan dari siapa, makan di mana, kado apa, dan hingar bingar lainnya. memaknai ulang tahun saat itu hanya sekedar tanggal untuk dilalui dengan ramai dan bahagia.

pagi ini saya terbangun dengan keadaan sudah di usia itu, di rumah berdua saja dengan ayah. beliau menyalami, kemudian semua berjalan seperti biasanya. saya minum kopi sambil membalas beberapa pesan, membereskan beberapa pakaian dari koper yang masih belum saya rapikan hingga sekarang, dan beberapa ritual pagi yang biasa saya lakukan sebelum sarapan. tapi, saya tidak bisa berbohong jika ucapan Yusuf pada Ambar di film 3 Hari Tuk Selamanya itu tidak terngiang di kepala saya. jika itu benar, maka keputusan penting apa yang akan saya ambil hingga ia mengubah hidup saya?

dalam perjalanan hingga angka dua puluh tujuh, banyak keputusan-keputusan penting yang sudah saya buat, sebenarnya. setidaknya bagi saya sendiri. entah keputusan itu ternyata berujung baik, atau berujung tidak baik, akhirnya saya belajar jika hal-hal itu memang harus terjadi. berujung tidak baik bukan berarti keputusan itu salah, pun sebaliknya. karena di balik keputusan-keputusan yang kita buat, ternyata ada banyak faktor lain yang menentukan. ada keputusan-keputusan lain dari pihak lain yang memengaruhi keputusan kita sendiri. selalu seperti itu. pagi ini saya mengamini pikiran saya sendiri tentang hal ini sambil bermain gitar di teras kecil atas rumah. lalu pertanyaan itu kembali muncul lagi di diri saya: keputusan penting apa yang kamu ambil di usiamu sekarang?

cukup lama saya memikirkan pertanyaan itu, hingga saya menuliskannya di sini. entah ini sebuah keputusan penting, atau harapan, atau pemikiran yang biasa saja, tetapi di usia dua puluh tujuh ini, saya memutuskan untuk ingin tetap menjadi diri sendiri. saya percaya jika setiap manusia memiliki jalan masing-masing yang dilewatinya, dan memikirkan untuk ingin menjadi seperti A atau ingin menjadi seperti B ternyata adalah sesuatu yang jauh. saya ingin tetap menjadi diri saya sendiri, karena itu adalah hal paling dekat dan paling nyaman yang bisa saya lakukan. dan bisa jadi, hal ini adalah pengingat bagi saya untuk lebih peka dan jujur pada diri sendiri dalam mengambil keputusan-keputusan penting di saat dan setelah angka dua puluh tujuh ini. semoga.

Jogja, 24 April 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *