harga segelas jeruk panas

“kanca-kancamu yo wes do mlebu mas?” (temen-temenmu juga udah pada masuk kerja mas?)
“yo wes ket suwe. koe wae sing kesuwen ra bukak-bukak.” (ya udah lama, kamu aja yang lama nggak buka)

yanto, penjual angkringan di dekat kantor, menyapa saya dengan pertanyaan itu. malam ini, yanto baru saja kembali buka, terhitung sejak seminggu sebelum lebaran ia mudik ke klaten. angkringan-nya ramai sekali. sepertinya banyak yang menunggui keberadaan yanto dan angkringannya. terbukti, banyak yang “protes” pada yanto.

“tak kiro koe wes bubar e yan.” (tak pikir angkringanmu sudah tidak buka lagi.)
“yan, aku wingi sore pit-pitan lewat kene, sepi nyenyet e.” (yan, aku kemarin sore sepedaan lewat sini, sepi sekali.)
“niat orae yan.” (kamu niat jualan nggak yan.)

komentar-komentar itu muncul dari para pelanggan yanto, tentu dengan nada yang akrab dan bercanda. yanto pun seperti biasa, melayani tanggapan-tanggapan itu dengan santai dan bercanda juga. ia juga menanyakan kabar pengunjung angkringan yang kebanyakan ia kenali semuanya. dari pertanyaannya, saya tau itu bukan sekedar pertanyaan basa-basi, karena yanto bisa menanyakan hal detil dari para pelanggannya itu, bukan sekedar pertanyaan “apa kabar?”.

malam ini angkringan yanto benar-benar terlihat hangat. setiap pengunjung bertegur sapa, yanto juga bak DJ di sebuah pesta, ia kerap menggiring topik-topik sederhana sehingga pengunjung mengikuti alur pembicaraan. beberapa yang baru bertemu, saling bersalaman dan bermaafan mengucapkan selamat hari raya lebaran (meskipun lebaran sudah lama berlalu).

saya sendiri sebenarnya sedang tidak lapar. namun sudah lama memang saya ingin bertemu dengan yanto dan pak didik (dua orang ini kakak beradik, mereka bergantian menjaga angkringan) untuk sekedar silaturahmi. dan mungkin bisa jadi pengunjung lain juga punya niatan yang sama, karena memang suasana “silaturahmi” benar-benar sangat terasa di angkringan yanto, daripada suasana transaksi yang biasa terjadi antara penjual dan pembeli.

sambil melakukan banyak hal seperti mencuci, menggoreng telur, membuat minum, dan lain-lain, yanto akhirnya menceritakan perihal kenapa ia “terlambat” buka sehingga orang-orang mencarinya.

“si kriwil ki wingi ra gelem mlebu kelas, njuk aku dikon ngancani mlebu kelas.” (si kriwil kemarin nggak mau masuk kelas sendiri, minta aku temenin masuk kelas)
“njuk koe melu mlebu yan?” (terus kamu ikut masuk kelas yan?)
“lhaiyo piye meneh.” (lhaiya gimana lagi)
“dino pertama mlebu sekolah po?” (hari pertama masuk sekolah ya?)
“lhaiyo. TK je.” (iya, TK)
“wah gurune ayu-ayu no..” (gurunya cantik-cantik dong)
“yo ora, akeh-akeh e ibu-ibu sing wes tuo. sing sak pantaran ora ono.” (ya nggak juga, kebanyak ibu-ibu sudah tua. yang seumuran nggak ada)

ternyata yanto terlambat berjualan karena ia harus mengantarkan anaknya untuk masuk sekolah pada pertama kalinya. bagi yanto, pasti penting mengantarkan anaknya untuk pertama kalinya masuk sekolah. karena salah satunya ia harus bertemu dengan guru-guru yang akan mengajar anaknya. ia harus mengenal secara personal siapa yang mendidik anaknya. walaupun sekolah sudah menerapkan peraturan-peraturan sendiri untuk mendidik anak didiknya dan ia “membayar” di sekolah itu untuk mendapatkan hak-hak didik atas anaknya, tapi tetap saja saya yakin bagi yanto, maupun orangtua lain, sangat penting untuk mengenal siapa orang yang akan menjadi salah satu penentu nasib masa depan anaknya. tidak pasrah begitu saja dengan transaksi “membayar”.

sama saja, di angkringannya, orang-orang memang sebenarnya hanya harus “membayar” jika mau makan, yanto mendapat uang, urusan selesai. peraturannya simpel. namun ternyata, mereka tak melulu ke angkringan hanya karena ingin makan atau minum. di angkringan yanto, mereka butuh lebih dari itu. mereka butuh bertemu, butuh ngobrol, menanyakan kabar yanto dan kabar pengunjung lain, berbagi informasi yang mungkin penting bagi satu sama lain, atau hanya sekedar bercanda dan bertegur sapa. yang mereka cari adalah silaturahmi. menjadi manusia yang saling mengenal manusia lain.

di perjalanan kembali ke kantor, saya kepikiran lagi tentang kejadian-kejadian di angkringan berikut cerita-cerita yanto. lalu saya merasa saya belajar sesuatu, dan sesuatu itu berujung pada sebuah kesimpulan yang saya buat sendiri: jika ternyata silaturahmi itu yang utama, dan bisnis hanyalah salah satu sarananya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *