Ibu dan Ińárritu

Alejandro González Iñárritu dalam sebuah dokumenter di balik pembuatan film terbarunya, “The Revenant” bercerita tentang banyak visi-nya dalam membuat film itu. Ada satu statement-nya yang cukup terngiang di kepala saya: “I wonder, one day, we eat our last fish, we cut our last tree, and that day we finally realize that money can’t get everything.”
“money can’t get everything.”
sebuah pernyataan yang baru saja pagi tadi saya kembali dikuatkan bahwa hal itu memang tak sekedar di awang-awang.

***

Ibu saya sebentar lagi pensiun. Banyak penyesuaian-penyesuaian yang mulai ia lakukan. Ibu mulai semakin sibuk dengan hobi lamanya, merawat tanaman, terutama anggrek. Hal itu ia lakukan untuk persiapan supaya masa pensiun tidak ia habiskan dengan berdiam diri. Selain itu, kini sopir yang biasa mengantar jemput ibu juga sudah mulai berhenti. Ibu juga harus mengembalikan mobil kantor yang selama ini ia pakai sehari-hari. Mobil itu biasa parkir di rumah tetangga kami -Pak Priyo namanya- karena rumah kami tak cukup menampung dua mobil. Selama ini ibu menyewa per tahun untuk parkir di rumah Pak Priyo. Pagi tadi, ibu mengajak saya untuk berkunjung ke rumah Pak Priyo, karena kini mobil itu sudah tak lagi dititipkan di rumahnya.

Beberapa minggu yang lalu, ibu minta diantar mencari kain batik. Ibu bilang batik itu untuk Pak Priyo dan istrinya sebagai ucapan terima kasih karena selama ini telah “direpoti” dengan mobil titipan. Saya mengiyakan saja keinginan ibu, walaupun dalam benak saya berpikir sebenarnya tidak harus serepot itu, toh ibu sudah membayar biaya sewa setiap tahun. Tapi hal itu jelas tidak sampai saya ucapkan ke ibu, karena saya yakin ia pasti punya pertimbangan lain. Dan benar saja.

Akhirnya baru tadi pagi kami sempat berkunjung ke rumah Pak Priyo. Saat mengetuk pintu, kami tidak bertemu dengannya. Pak Priyo sedang ke sawah. Kami hanya bertemu dengan istrinya. Sedikit cangung, ia mempersilahkan kami untuk duduk. Dengan bahasa Jawa yang halus, ibu kemudian mengutarakan maksudnya berkunjung adalah untuk berterima kasih karena telah bertahun-tahun menitipkan mobil, serta meminta maaf jika mungkin ada hal-hal yang kurang berkenan. Dengan raut wajah sedikit berkaca-kaca, Bu Priyo juga mengutarakan hal yang kurang lebih sama dengan apa yang ibu saya utarakan. Mereka kemudian berbincang tentang pohon kelengkeng di halaman rumah Pak Priyo yang teduh. Tidak ada perbincangan mengenai kontrak-kontrak yang selesai, atau nilai-nilai uang yang mungkin kurang atau lebih. Tidak ada pembicaran tentang uang, padahal saya tahu ibu membayar sewa setiap tahun. Kami berpamitan, dan batik yang sedari tadi saya bawa diserahkan ibu kepada istri Pak Priyo, biasa saja tanpa seremoni yang berlebihan, karena bukan pada batik itu inti kedatangan kami, namun pada sebuah percakapan tulus tentang terima kasih dan permintaan maaf.

Kebetulan sekali, di jalan menuju pulang kami bertemu dengan Pak Priyo. Ibu kembali mengutarakan maksudnya kepada Pak Priyo. Mereka berdua saling berterima kasih dan meminta maaf, dalam bahasa Jawa yang sangat halus dan tulus. Dalam perjalanan, saya mulai paham mengapa ibu ingin sekali berkunjung ke rumah Pak Priyo. Memang uang sewa telah dibayar lunas, namun ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan oleh lembaran-lembaran uang, yaitu nilai-nilai kemanusiaan, ungkapan-ungkapan yang tulus, dan keeratan hubungan kita sesama manusia, ataupun sesama makhluk hidup.

Ibu dan Ińárritu, siang ini saya belajar banyak dari mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *