indomie dan indihome

Di sosial media sedang ramai perkara seorang pelanggan jaringan internet indihome yang mengeluarkan uneg-unegnya perkara servis indihome yang dirasa kurang memuaskan. Ia membandingkan servis jaringan indihome dengan jaringan internet di amerika sana. Bagi sesama pelanggan internet dengan kebutuhan koneksi yang prima -sesuai dengan yang ditawarkan indihome- saya sedikit banyak ikut menganggukkan kepala dengan suara pelanggan tersebut. Tak selang berapa lama, kemudian muncul tanggapan dari seorang pegawai indihome yang berusaha men-counter keluhan pelanggan tersebut, yang bagi saya lebih terdengar seperti berkeluh kesah sendiri terhadap hidup dan pekerjaannya. Sebuah pernyataan yang tak perlu menurut saya.

***

Beberapa hari yang lalu, saya rapat dengan calon klien baru. Dalam perbincangan kami, obrolan berkembang ke banyak hal, sampai ke cerita si calon klien tentang kelakuan vendor lamanya. Si vendor lama sering berkeluh kesah banyak kerjaan sehingga tidak bisa memenuhi ketepatan waktu seperti yang dijanjikan kepada sang klien. Bagi sang klien, itu bukan urusannya, seharusnya. Saya tentu sering merasakan apa yang dirasakan oleh si vendor: harus menyelesaikan pekerjaan sesuai deadline yang sudah disepakati, padahal banyak perkara lain yang juga harus diselesaikan. Bagi sang klien, perkara saya -diluar kontrak kerja saya dengan klien- tentu bukan menjadi masalahnya. Dalam hal ini, saya sepakat dengan apa yang dikatakan calon klien saya tersebut. Pekerjaan adalah pekerjaan. Hal-hal lain di luar itu, sebenarnya adalah urusan masing-masing. Seperti kejadian malam ini di angkringan.

Malam ini, saya makan di angkringan langganan, angkringan Pak Didik. Belum terlalu malam sebenarnya saya makan di situ, namun tidak seperti biasanya, nasi sudah habis. Saya pun memesan indomie rebus telur. Tak selang berapa lama, ada pelanggan lain yang datang, dan ia juga memesan indomie rebus telur. Ternyata, Pak Didik juga kehabisan telur. Tak seperti biasanya di jam yang belum terlalu malam, makanan di angkringannya sudah banyak yang habis. Tak mau berkeluh kesah, Pak Didik malah terlihat semakin berusaha memberikan yang terbaik untuk pelanggannya. Menanak nasi lagi jelas tak mungkin, namun ia masih bersedia untuk membelikan telur terlebih dahulu kepada si pemesan indomie rebus telur yang kehabisan telur. Hujan yang turun mungkin membuat sang pembeli merasa tidak enak jika harus memaksa Pak Didik membeli telur terlebih dahulu. Ia pun memilih untuk makan indomie rebus tanpa telur. Pak Didik dengan sigap segera memasak indomie tersebut, tanpa ada keluh kesah sama sekali. Padahal bisa jadi, dibalik nasi-nya yang sedikit dan telur-nya yang tak tersedia banyak, ada masalah-masalah lain di belakangnya yang kami -para pelanggan- tak tahu. Tetapi Pak Didik memilih untuk tidak berkeluh kesah dibalik “kekurangannya” malam ini, alih-alih ia malah berusaha tetap memberikan servis terbaiknya melayani kami para pelanggan yang sering membuatnya tak sempat untuk sekedar duduk menikmati alunan koleksi musik lawasnya. Tak ada keluh kesah darinya ternyata justru membuat kami, para pelanggannya, mau untuk memahami habisnya nasi dan telur di angkringan Pak Didik malam ini.

Di kantor, masih ada seorang teman saya yang masih bekerja, melayani puluhan mungkin email yang keluar masuk, untuk perkara sebuah pekerjaan. Wajahnya terlihat serius, mungkin sedikit lelah. Di ruang lain, ada teman saya yang sibuk dengan bisnis online shop-nya. Ia tak henti-hentinya dengan teliti memeriksa barang pesanan pelanggannya. Bagi mereka, koneksi internet malam ini sangatlah penting untuk menunjang pekerjaan. Di tengah koneksi indihome yang melambat, mereka tetap berusaha “melayani” kliennya, tanpa berkeluh kesah pada sang klien: koneksi internet sedang lambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *