jebakan itu bernama usia

“yog, piye nek awakdewe pindah kantor. golek sing luwih gedhe.”
(yog, bagaimana jika kita pindah kantor, cari yang lebih besar)

***

pada suatu siang, bob -teman saya yang merintis bisnis jual beli barang-barang dari jepang dengan brand Titip Jepang- membuka sebuah obrolan, ajakan tepatnya. saat itu memang kami mengontrak satu rumah bersama untuk usaha masing-masing. bob dengan usaha jual-belinya yang ia rintis bersama teman saya juga, sandi, dan saya dengan usaha audio visual yang saya jalankan bersama teman-teman juga, termasuk sandi. namun karena hal-hal, kami tidak menemukan titik temu, dan akhirnya beberapa hari kemarin (saya lupa tepatnya) Titip Jepang menempati tempat baru yang lebih besar, sedangkan saya masih di tempat yang lama.

dua hari yang lalu, saya mengunjungi kantor mereka yang baru. mereka mengadakan syukuran tempat baru. dalam sebuah sesi sambutan-sambutan, sandi mendapat kesempatan untuk berbicara. sandi yang memang seperti bekerja di dua kantor (bersama saya dan di Titip Jepang) bercerita jika memang awalnya apa yang kami semua lakukan bisa dibilang berawal dari hal-hal yang tidak terlalu serius, jika tidak bisa dibilang iseng. sandi dan saya yang suka bermain-main dengan audio visual, akhirnya keterusan mendirikan rumah produksi. lalu kantor kami sering digunakan teman-teman untuk sekedar melepas lelah, bermain playstation, atau numpang cari koneksi internet. berawal dari hal-hal seperti itu, sandi berinteraksi dengan bob yang sama-sama menyukai JKT48 hal-hal yang berbau jepang. hingga akhirnya sebuah keputusan iseng mereka buat untuk menjual barang-barang dari jepang. dan ternyata kini hal-hal iseng itu menjadi sesuatu yang serius.

saya jadi ingat, bagi kami dulu, mendapatkan uang dari apa yang kami sukai untuk dikerjakan adalah sesuatu yang menyenangkan. dari mendapatkan uangnya saja, kami sudah senang. berapapun jumlahnya. kami tidak pernah memikirkan hal-hal lainnya. namun seiring bertambahnya usia, hal-hal semakin menjadi terasa serius. kami semakin peduli dengan “angka-angka”, kami semakin peduli dengan peraturan, hukum, harga tanah, properti, gejolak politik, kurs dollar, invoice, laba-rugi, dan hal-hal serius lain yang menyebalkan, yang dulu sama sekali tak pernah kami pikirkan.

apa yang sandi katakan siang itu menyadarkan saya, jika kami semakin bertambah usia, dan bertambah usia itu ternyata tidak semenyenangkan meniup lilin kue ulang tahun dan haha hihi haha hihi yang hanya berlangsung dalam beberapa jam lalu setelah itu pusing membayar tagihan-tagihan. ya, bertambah usia ternyata adalah jebakan paling menyebalkan yang tak pernah bisa dihindari oleh semua orang.

tetapi, apakah hal-hal serius tersebut semenyebalkan itu? ternyata tidak juga. saya bersyukur, dalam menjalani jebakan usia yang bertambah, kami masih bisa berdiri di atas kaki sendiri. kami tidak harus rutin bangun terlalu pagi dan mengenakan seragam untuk berangkat bekerja, kami tidak harus mengisi daftar absensi kehadiran, kami tidak harus memasang wajah-wajah palsu saat bertemu dengan teman sekantor, kami tidak harus duduk di kubikel-kubikel berjam-jam hanya untuk menamatkan solitaire, dan hal-hal membosankan lainnya. dalam menjalani hal-hal serius yang kini tiap hari kami jalani, kami masih bersenang-senang juga manjalaninya.

***

“san, koe turu kantor wae. sesuk suting isuk ra tangi koe.” kata iqbal, produser kami, kepada sandi.
(san, kamu tidur di kantor aja. besok suting pagi nggak bangun kamu pasti)

“gah, aku turu kantor titip jepang wae.” kata sandi.
(aku tidur kantor titip jepang aja)

“yowes, aku langsung lokasi, koe jemput sandi bal nggugah.” timpal saya menengahi.
(yasudah, aku langsung ke lokasi, kami bangunin sama jemput sandi bal)

ya, ternyata menjadi tua itu pasti. namun untuk tetap bersenang-senang, itu adalah pilihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *